Parasit pada Ular


PENDAHULUAN

Ular merupakan reptilia berdarah dingin yang dikelompokkan bersama amfibi ke dalam dunia herpetofauna yang artinya hewan melata (Herbert dkk., 2012). Ular  memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem kawasan secara alami, baik sebagai  predator (pemangsa) maupun sebagai  prey (mangsa). Di alam, ular berperan sebagai pengendali hama pertanian (tikus atau hewan pengerat lainnya) yang sangat efektif (Purbatrapsila, 2009).
Helminthosis khususnya trematodosis merupakan penyakit parasitik yang prevalensinya cukup tinggi dan kerugian-kerugian yang ditimbulkan sangat berarti. Trematoda atau biasa disebut cacing daun merupakan agen cacing yang dapat menginfeksi hewan ternak, manusia, maupun hewan liar (Tiuria dkk., 2008).
Trematoda termasuk ke dalam Filum Platyhelminthes, dan lebih umum dikenal sebagai cacing pipih. Semua jenis trematoda merupakan parasit dan diklasifikasikan ke dalam Sub Kelas Digenea. Trematoda memiliki sistem pencernaan sederhana, yaitu batil hisap kranial, pharinx, esophagus, dan sepasang usus buntu yang bercabang. Sistem ekskresi terdiri dari sejumlah besar  sel api silia yang mendorong sisa produk metabolik di sepanjang sistem saluran. Sistem ekskresi terdiri dari sebuah kandung kemih bagian kaudal, sebuah sistem percabangan dari saluran  pengumpul yang masuk ke dalam kandung  kemih, dan sebuah sistem ekskresi yang terbuka ke dalam saluran pengumpul tersebut. Trematoda memiliki sistem syaraf sederhana dan tidak memiliki sistem peredaran darah (Muhni, 2011). Sistem reproduksinya hermaprodit, kecuali famili Schistosomatidae (Taylor dkk., yang disitasi oleh Muhni, 2011). Beberapa penelitian melaporkan bahwa kecebong pada beberapa spesies katak berbeda merupakan host intemediate kedua dari parasit trematoda  (Pinto, 2012).
Infeksi parasit merupakan penyakit yang umum ditemukan pada hewan termasuk satwa liar. Infeksi cacing umumnya tidak ditandai dengan gejala klinis yang jelas, namun keberadaannya di dalam tubuh mengganggu kesehatan hewan itu sendiri sehingga dapat menurunkan daya produksi dan reproduksinya. Untuk mengatasi masalah penyakit cacing pada hewan-hewan peternakan maupun satwa liar hendaknya dilakukan pemeriksaan cacing secara rutin serta pengamatan lebih lanjut terhadap inang perantara (Tiuria, 2008).

TREMATODA YANG MENYERANG ULAR
Beberapa jenis trematoda yang menjadi parasit di dalam tubuh ular antara lain:
No.
Trematoda
Jenis Ular
1.
Renifer heterocoelium
Natrix spp., Bothrops neuwiedii
2.
Dolicophera macalpini
Copper head snake, Tiger snake (Nothecis spp.)
3.
Fibricola seoulensis
Natrix tigrina lateralis
4.
Haplorchis solus, N
Green tree snake (Dryophis mycterizans)
5.
Lechriorchis primus
Northern ribbon snake (Thamnophis sauritus septentrionalis), Common garter snake (Thamnophis sirtalis)
6.
Zeugorchis eurinus
Northern ribbon snake (Thamnophis sauritus septentrionalis), Common garter snake (Thamnophis sirtalis)
7.
Zeugorchis megametricus
Common garter snake (Thamnophis sirtalis)
8.
Ochetosoma heterocoelium
Leptodeira septentrionalis, Bothriechis schlegelli, Bothrops asper dan Porthidium nasutum


 1.      Renifer heterocoelium
MORFOLOGI
            Ovarium berbentuk bulat. Metaserkaria ditemukan pada dinding eksternal usus yang ditandai dengan encysted metaserkaria yang berbentuk oval, membrane kista yang transparan, dan penghisap mulut yang terletak subterminal. Pre-faring pendek, faring oval, dan esophagus pendek.
  
PREDILEKSI
Renifer heterocoelium adalah parasit trematoda yang menyerang saluran pencernaan ular bagian atas, yaitu rongga mulut dan esophagus.


HOST INTERMEDIATE
            Renifer heterocoelium memerlukan inang perantara siput, yaitu Physa draparnaud dan Physella Haldeman.

SIKLUS HIDUP
            Renifer heterocoelium adalah parasit yang tahap larva dan siklus hidupnya masih belum diketahui secara jelas. Namun berkaitan dengan beberapa spesies, siklus hidupnya melibatkan siput sebagai inang perantara kemudian muncul dan mengkista pada inang perantara kedua, yaitu amfibi dan berudu. Infeksi terjadi bila ular memangsa amfibi yang mengandung metaserkaria sehingga parasit akan berkembang hingga dewasa di dalam rongga mulut dan esophagus ular.

PATOGENESA & GEJALA KLINIS
            Setelah ular memangsa amfibi yang terinfeksi parasit, cacing akan terus berkembang pada rongga mulut dan esophagus. Ular yang terinfeksi pada umumnya mengalami anoreksia atau hipersalivasi, karena sejumlah besar organisme parasit berada dalam rongga mulut.
           
DIAGNOSA
            Diagnosa dapat dilakukan dengan menemukan telur dalam tinja atau parasit di mulut hewan hidup. Pada hewan mati, nekropsi dilakukan dengan memeriksa mulut dan esophagus ular. Diagnosa juga dapat dilakukan dengan mengidentifikasi metaserkaria dengan mengambil specimen berudu yang dinekropsi di dalam cawan petri berisi NaCl fisiologis dan kemudian diperiksa di bawah mikroskop stereo untuk mengetahui keberadaan parasit. Metaserkaria yang ditemukan dalam rongga tubuh larva amfibi juga dapat direndam dalam formalin 10%, diwarnai dengan asetat-tawas carmine, didehidrasi dengan alkohol series bertingkat, dibersihkan, dan dilekatkan dengan balsam Kanada. Parasit diperiksa di bawah mikroskop cahaya.

TERAPI
            Terapi untuk infeksi Renifer heterocoelium adalah dengan memberikan Praziquantel secara IM, PO, SC atau fenbendazole per oral yang diulang dalam dua minggu.
  
 2.      Dolichophera macalpini
MORFOLOGI
Berukuran panjang 4.0 mm dan lebar 1,6 mm.spesies terkecil yang pernah ditemukan 0,8 x 0,6 mm. Pada penyayatan membujur akan terlihat lengkungan cekung di bagian ventral, dan cembung di bagian dorsal. Ujung anterior memiliki penonjolan yang disebut bibir pre-oral yang tidak terlihat dari penampakan dorsal. Penghisap mulut (oral sucker) berukuran 0,6 x 0,49 mm. Acetabulum terletak pada pertengahan panjang tubuh, berbentuk lebih kecil dan ramping dari penghisap mulut dan berdiameter 0,47 mm. Kutikula tebal dan berduri. Duri di bagian ventral berukuran panjang 0,018 mm. Testis berbentuk dua buah lobus tak beraturan, berjumlah dua buah dan terletak memenuhi tubuh. Ruang perifer dalam cirrus ditempati oleh sel-sel padat yang merupakan kelenjar prostat. Ovarium terletak memanjang di sebelah kanan garis tengah tubuh. Telur berwarna kuning kecokelatan tapi massa dari telur terlihat berwarna cokelat tua sampai hitam. Cangkang telur memiliki operculum pada salah satu ujungnya.
  
PREDILEKSI
            Cacing ini dapat dijumpai pada intestinal Tiger snake, dan pada paru-paru dan trakea Copper Head snake.

HOST INTERMEDIATE
Dolichopera macalpini melibatkan siput Ameria spp. dan katak Limnodynastes spp. sebagai inang perantara pertama.

SIKLUS HIDUP
            Siklus hidup Dolichopera macalpini melibatkan siput sebagai inang perantara kemudian muncul dan mengkista pada inang perantara kedua, yaitu amfibi dan berudu. Infeksi terjadi bila ular memangsa amfibi yang mengandung metaserkaria sehingga parasit akan berkembang hingga dewasa di dalam usus dan trakea ular.
           
PATOGENESA & GEJALA KLINIS
            Infeksi Dolichopera macalpini menyebabkan penurunan nafsu makan yang berakibat hilangnya berat badan, anemia, dan kematian pada ular penangkaran.
                       
DIAGNOSA
            Diagnosa dapat dilakukan dengan menemukan telur dalam tinja atau parasit di mulut hewan hidup. Pada hewan mati, diagnosa dilakukan dengan memeriksa cacing pada saluran pencernaan atau paru-paru pada saat nekropsi.

TERAPI
            Infeksi Dolichopera macalpini dapat diobati dengan memberikan Praziquantel secara IM, PO, SC atau fenbendazole per oral yang diulang dalam dua minggu.

 3.      Fibricola seoulensis

MORFOLOGI
Telur secara jelas terbagi menjadi dua bagian, yaitu anterior dan posterior. Tubuh anterior melengkung cekung secara ventral dan bagian posterior membentuk seperti sendok. Penghisap ventral kecil dan terletak di bagian tengah tubuh tertutup oleh organ tribocytic. Organ tribocytic berbentuk bulat hingga elips, mengandung sel-sel kelenjar padat dilengkapi dengan celah ventral pada bagian tengah. Ovarium berbentuk segitiga  terletak tepat di belakang percabangan submedian  tubuh anterior dan posterior. Testis terletak memanjang secara ventral di bagian posterior tubuh, berjumlah dua dan simetris, berbentuk seperti kupu-kupu dengan pengecilan di bagian mediannya. Telur berbentuk oval sampai elips, tidak asimetris, berwarna keemasan, memiliki operculum dan berdinding tipis.


PREDILEKSI
            Cacing ini memiliki daerah predileksi duodenum, namun pada infeksi berat cacing juga dapat ditemukan pada jejunum dan ileum tubuh host definitive yang terinfeksi.

 HOST INTERMEDIATE
              Inang perantara pertama dari cacing ini adalah siput  Hippeutis cantor, dan berudu serta katak dari species Rana pippiens, dan Rana nigromaculata sebagai inang perantara kedua.

 SIKLUS HIDUP
            Siklus hidup Fibricola seoulensis melibatkan siput sebagai inang perantara kemudian muncul dan mengkista pada inang perantara kedua, yaitu amfibi dan berudu. Infeksi terjadi bila ular memangsa amfibi yang mengandung metaserkaria sehingga parasit akan berkembang hingga dewasa di dalam usus ular.

PATOGENESA & GEJALA KLINIS
              Pada infeksi berat, akan terjadi perusakan mukosa usus yang bila dibiarkan berlanjut akan menyebabkan kematian. Gejala klinis ditimbulkan akibat infeksi Fibricola seoulensis adalah diare, penurunan berat badan, dan pendarahan pada mukosa usus.

DIAGNOSA
            Diagnosa dapat dilakukan dengan menemukan telur dalam tinja. Pada hewan mati, diagnosa dilakukan dengan memeriksa cacing pada saluran pencernaan terutama duodenum, jejunum, dan ileum pada saat nekropsi.

TERAPI
              Praziquantel telah terbukti secara efektif membasmi cacing dewasa pada saluran pencernaan akibat infeksi Fibricola seoulensis. Obat ini menimbulkan destruksi integument cacing sehingga cacing kehilangan integritas tubuhnya. Setelah pemberian praziquantel diharapkan terapi lanjutan untuk mengembalikan lapisan mukosa usus yang terkikis akibat infeksi cacing.

4.      Haplorchis solus, N
MORFOLOGI
Cacing ini berbentuk seperti buah pir, berukuran panjang 1,22 mm dan lebar 0,44 mm. Kutikula menutupi seluruh permukaan tubuh.penghisap mulut terletak sub terminal dan berdiameter 0,096 mm. Acetabulum rudimenter dan berhubungan dekat dengan penghisap genital membentuk kompleks ventro-genital sucker yang berukuran 0,134 x 0,109 mm yang dipersenjatai oleh banyak duri pada lubang genitalnya. Testis tunggal dan berukuran 0,23 x 0,19 mm terletak di bagian posterior tubuh. Vesikula seminalis berupa kantung berdinding tipis. Di bagian anterior testis, terdapat ovarium yang berkuran  0,10 x 0,12 mm. Receptaculum seminis berukuran besar, yaitu 0,09 x 0,12 mm dan dekat dengan anterior ovarium. Telur berbentuk oval, memiliki operculum, dan berukuran 0,034 – 0,042 x 0,012 – 0,020 mm.


HOST INTERMEDIATE
            Inang perantara pertama dari cacing ini adalah siput  M. tuberculata dan T. granifera.
.
PREDILEKSI
Cacing dapat ditemukan pada usus (intestine) host definitive.

SIKLUS HIDUP
            Siklus hidup Fibricola seoulensis melibatkan siput sebagai inang perantara kemudian muncul dan mengkista pada inang perantara kedua, yaitu amfibi dan berudu. Infeksi terjadi bila ular memangsa amfibi yang mengandung metaserkaria sehingga parasit akan berkembang hingga dewasa di dalam usus ular.
           
PATOGENESA & GEJALA KLINIS
            Gejala pada infeksi Haplorchis spp. dapat bersifat symptom atau asimptomatis. Pada infeksi akut Haplorchis spp. dapat menyebabkan rasa tidak nyaman pada perut, diare, sakit abdominal, dan radang pada appendiks. Pada infeksi kronis Haplorchis spp., dapat menyebabkan lesi dan kebocoran pada usus. Melalui pemeriksaan mikroskopis akan terlihat ulcer pada mukosa, pendarahan mukosa dan submukosa, pemendekan vili, atau fibrosis pada lapisan submukosa. Kerusakan ini disebabkan oleh penghisap mulut (oral sucker) cacing. Parasit kecil atau telur parasit dapat menyebar melalui sirkulasi darah sehingga dapat mencapai jantung, sum-sum tulang, bahkan otak sehingga menyebabkan kematian.

DIAGNOSA
            Diagnosa dapat dilakukan dengan menemukan telur dalam tinja. Namun, telur Haplorchis spp. serupa dengan telur Ophistorchis spp., sehingga untuk membedakannya dilakukan deteksi molekuler.

TERAPI
            Infeksi cacing Haplorchis spp. dapat diobati dengan pemberian 250-40 mg/kg Niclosamide, atau 10-12 mg/kg Mebendazole.

5.      Lechriorchis primus

MORFOLOGI
            Tubuh berbentuk elips, berukuran panjang 5,5 mm dan lebar 1,4 mm, dengan kutikula yang tebal. Penghisap mulut terletak subterminal, berukuran panjang 510 µ dan lebar 476 µ. Panjang acetabulum 680 µ dan lebar 72 µ, dipisahkan oleh penghisap mulut dengan panjang 120 µ. Prepharynk pendek, esophagus panjang, sekum tipis dan tertutup sebagian oleh uterus. Testis berbentuk oval dengan panjang sekitar 560 µ, ramping dan sejajar sumbu tubuh. Ovarium berbentuk globuler, berdiameter 170, meramping pada bagian kanan median dan pada posterior acetabulum. Telur berbentuk oval, berukuran panjang 52 sampai 55 µ dan lebar 29 µ.


PREDILEKSI
Predileksi dari cacing Lechriorchis primus adalah paru-paru.


HOST INTERMEDIATE
Cacing Lechriorchis primus memerlukan inang perantara berupa siput Ohysa parkeri dan P. gyrina.

SIKLUS HIDUP
            Cacing dewasa bertelur pada paru-paru ular dan terbawa ke trakea melalui pergerakan silia sel-sel epitel, yang kemudian tertelan, dan keluar dari tubuh ular tersebut ke lingkungan melalui sekresinya. Telur tidak akan menetas hingga telur-telur tersebut termakan oleh siput. Mirasidium kemudian menetas akibat pengaruh cairan yang berada dalam gastrium siput satu jam setelah tertelan. Mirasidium bermigrasi dari lambung siput menuju usus, yang setelah 2 minggu kemudian mirasidium akan membentuk sporokista yang kemudian bermigrasi ke hati membentuk serkaria dan matang setelah 3 minggu. Pada 5 minggu setelah infeksi serkaria akan bermigrasi dari tubuh siput menuju lingkungan luar. Serkaria akan bergerak menuju inang perantara kedua yaitu berudu atau katak melalui penetrasi kulit dan seminggu kemudian akan mengkista di antara otot-otot katak. Ular akan terinfeksi apabila memangsa katak tersebut.

PATOGENESA & GEJALA KLINIS
            Infeksi cacing Lechriorchis primus kebanyakan tidak begitu membahayakan, namun infeksi berat telah terbukti dapat menyebabkan iritasi paru, dyspnea, dan penurunan berat badan. Tanda-tanda tambahan lain yang terlihat adalah gelisah dan agresif.

DIAGNOSA
            Diagnosa dapat dilakukan dengan menemukan telur dalam tinja. Pada hewan mati, diagnosa dilakukan dengan memeriksa cacing pada saluran pencernaan atau paru-paru pada saat nekropsi

TERAPI
           Pemberian Praziquantel (8 mg / kg) secara subkutan, intramuskular atau per oral efektif menghilangkan parasit ini. Pemberian oral tetrachlorethylene (0,2 ml per kg berat badan dengan kapsul) telah dilaporkan menjadi pengobatan yang efektif untuk cacing dewasa di usus.
  
6.      Zeugorchis eurinus
MORFOLOGI
            Kutikula berduri, penghisap mulut terletak subterminal dan berdiameter 255 µ. Acetabulum berdiameter 187 µ, berjarak 422 µ ke penghisap mulut. Kantung cirrus berukuran panjang 425 µ dan lebar 120 µ. Testis berbentuk oval, berukuran tidak sama berdekatan dengan ujung posterior tubuh. Ovarium berbentuk globular dengan diameter 170 µ, terletak di median. Telur berbentuk oval, berukuran panjang 44 µ dan lebar 22 µ.
            Sebuah perbandingan dari spesies ini dengan spesies lain yaitu Caudorchis eurinus Talbot menunjukkan bahwa kedua bentuk tersebut kongenerik, sehingga diputuskan untuk membuat sinonim keduanya, yaitu Z. eurinus. Namun Z. eurinus (Talbot) dan Z. aequatus memiliki perbedaan, yaitu Z. eurinus memiliki kantong cirrus yang lebih pendek, ovarium yang kecil, dan vitellaria yang sempit. Sedangkan Z.Megametricus tidak kongenerik sehingga digolongkan ke dalam genus lain, yaitu  Pseudorenifer.

PREDILEKSI
            Predileksi dari cacing Zeugorchis eurinus adalah paru-paru.

SIKLUS HIDUP
            Cacing dewasa bertelur pada paru-paru ular dan terbawa ke trakea melalui pergerakan silia sel-sel epitel, yang kemudian tertelan, dan keluar dari tubuh ular tersebut ke lingkungan melalui sekresinya. Telur tidak akan menetas hingga telur-telur tersebut termakan oleh siput. Mirasidium kemudian menetas akibat pengaruh cairan yang berada dalam gastrium siput satu jam setelah tertelan. Mirasidium bermigrasi dari lambung siput menuju usus, yang setelah 2 minggu kemudian mirasidium akan membentuk sporokista yang kemudian bermigrasi ke hati membentuk serkaria dan matang setelah 3 minggu. Pada 5 minggu setelah infeksi serkaria akan bermigrasi dari tubuh siput menuju lingkungan luar. Serkaria akan bergerak menuju inang perantara kedua yaitu berudu atau katak melalui penetrasi kulit dan seminggu kemudian akan mengkista di antara otot-otot katak. Ular akan terinfeksi apabila memangsa katak tersebut.

PATOGENESA & GEJALA KLINIS
            Infeksi cacing Z. eurinus kebanyakan tidak begitu membahayakan, namun infeksi berat memiliki telah terbukti dapat menyebabkan iritasi paru, dyspnea, dan penurunan berat badan. Tanda-tanda tambahan lain yang terlihat adalah gelisah dan agresif.

DIAGNOSA
            Diagnosa dapat dilakukan dengan menemukan telur dalam tinja. Pada hewan mati, diagnosa dilakukan dengan memeriksa cacing pada saluran pencernaan atau paru-paru pada saat nekropsi.

TERAPI
           Pemberian Praziquantel (8 mg / kg) secara subkutan, intramuskular atau per oral efektif menghilangkan parasit ini. Pemberian oral tetrachlorethylene (0,2 ml per kg berat badan dengan kapsul) telah dilaporkan menjadi pengobatan yang efektif untuk cacing dewasa di usus.

7.      Zeugorchis megametricus
MORFOLOGI
Morfologi Z. megametricus mirip dengan Z. eurinus, hanya saja berbeda pada celah genital dan luasnya usus besar, yaitu sekum.

PREDILEKSI
           Predileksi cacing Z. megametricus adalah paru-paru.

SIKLUS HIDUP
            Cacing dewasa bertelur pada paru-paru ular dan terbawa ke trakea melalui pergerakan silia sel-sel epitel, yang kemudian tertelan, dan keluar dari tubuh ular tersebut ke lingkungan melalui sekresinya. Telur tidak akan menetas hingga telur-telur tersebut termakan oleh siput. Mirasidium kemudian menetas akibat pengaruh cairan yang berada dalam gastrium siput satu jam setelah tertelan. Mirasidium bermigrasi dari lambung siput menuju usus, yang setelah 2 minggu kemudian mirasidium akan membentuk sporokista yang kemudian bermigrasi ke hati membentuk serkaria dan matang setelah 3 minggu. Pada 5 minggu setelah infeksi serkaria akan bermigrasi dari tubuh siput menuju lingkungan luar. Serkaria akan bergerak menuju inang perantara kedua yaitu berudu atau katak melalui penetrasi kulit dan seminggu kemudian akan mengkista di antara otot-otot katak. Ular akan terinfeksi apabila memangsa katak tersebut.

PATOGENESA & GEJALA KLINIS
            Sama halnya dengan cacing Lechriorchis primus dan Z. eurinus, infeksi cacing Z. megametricus kebanyakan tidak begitu membahayakan, namun infeksi berat memiliki telah terbukti dapat menyebabkan iritasi paru, dyspnea, dan penurunan berat badan. Tanda-tanda tambahan lain yang terlihat adalah gelisah dan agresif.

DIAGNOSA
            Diagnosa dapat dilakukan dengan menemukan telur dalam tinja. Pada hewan mati, diagnosa dilakukan dengan memeriksa cacing pada saluran pencernaan atau paru-paru pada saat nekropsi.

TERAPI
           Pemberian Praziquantel (8 mg / kg) secara subkutan, intramuskular atau per oral efektif menghilangkan parasit ini. Pemberian oral tetrachlorethylene (0,2 ml per kg berat badan dengan kapsul) telah dilaporkan menjadi pengobatan yang efektif untuk cacing dewasa di usus.

8.      Ochetosoma heterocoelium
MORFOLOGI
           integumen ditutupi dengan duri halus dan banyak. Penghisap mulut berukuran panjang 0,44 mm dan lebar 0,44 mm. esophagus pendek, prefaring pendek, faring individu muda lebih besar. Acetabulum berkuran kecil, berdiameter 0,57 mm dengan panjang 0,59 mm. Testis berbentuk bulat dan sedikit berlobus. Ovarium terletak antara acetabulum dan testis sebelah kanan, berbentuk bulat hingga oval.

PREDILEKSI
           Parasit memiliki predileksi di dalam rongga mulut ular, menyebabkan kerusakan berupa infeksi kecil hingga obstruksi mekanik dari esophagus dan organ Jacobson.

HOST INTERMEDIATE
Ochetosoma heterocoelium memerlukan siput Physa Draparnaud sebagai host intermediate pertama, dan berudu atau ikan sebagai host intermediate kedua.

SIKLUS HIDUP
            Cacing dewasa yang berada di paru paru bertelur, bergerak ke trakea melalui pergerakan silia sel-sel epitel, tertelan ke esophagus, dan lolos dalam tinja. Telur menetas setelah dicerna oleh gastropoda seperti siput dan setelah empat sampai lima minggu, telur akan meninggalkan tubuh siput dalam bentuk serkaria. Serkaria tersebut tertelan oleh berudu dan mengkista di dalam otot. Ular terinfeksi setelah menelan berudu terinfeksi. Kista metaserkaria di perut berkembang menjadi cacing muda di usus kecil dan setelah sekitar tujuh bulan kemudian, cacing muda bermigrasi melalui lambung ke kerongkongan. Setelah di kerongkongan parasit tetap bertahan selama tiga bulan, kemudian mereka melewati mulut menuju paru-paru.

PATOGENESA & GEJALA KLINIS
            Tingkat keparahan luka yang disebabkan oleh O. heterocoelium tergantung pada parasit dan lokasinya pada mukosa. Infeksi O. heterocoelium dapat menyebabkan petechiae, infeksi ringan dan pada infeksi berat, ular kehilangan nafsu makan. O. heterocoelium dapat merusak lapisan rongga mulut sehingga dapat menyebabkan anemia, yang bila dibiarkan secara terus menerus akan menimbulkan kematian.

DIAGNOSA
            Diagnosa dapat dilakukan dengan menemukan telur dalam tinja atau parasit di mulut hewan hidup. Pada hewan mati, diagnosa dilakukan dengan memeriksa cacing pada saluran pencernaan atau paru-paru pada saat nekropsi. Trematoda di dalam rongga mulut yang ingin diidentifikasi dapat diambil  menggunakan pinset
  
TERAPI
           Infeksi Ochetosoma heterocoelium dapat diobati dengan pemberian oral antihelmintik Praziquantel dan untuk membersihkan luka-luka pada rongga mulut diberikan antiseptik sulfamethazine 25%

0 komentar:

Posting Komentar